layar yang bisu dan tanpa daya menjadi tempat yang tepat untuk tumpahkan semua. objek yang tidak akan pernah jadi subjek. tanpa komplikasi. tanpa kompromi. sesederhana itu.

Sunday, October 15, 2006

and the clock is ticking

Baru saja pulang kumpul-kumpul dengan teman-teman kuliah dulu. Ngobrol ngalor ngidul dan bergosip tak berkesudahan. Tapi yang paling dominan tentu saja tema cinta dan perkawinan. Beberapa teman satu angkatan sudah menikah dan ada yang sudah punya anak. Sampai Januari tahun depan, setidaknya ada 4 teman lagi yang akan melangsungkan pernikahan.

Kebetulan dari 8 orang yang ikut mengobrol di Pizza Hut Tebet sore ini, 6 orang belum menikah, sementara yang dua adalah pasangan yang akan segera menikah di awal tahun depan. Ada dua paradigma dalam memandang rencana pernikahan kawan kami ini. Nina yang aktivis perempuan bertanya pada Amel, sang calon pengantin: kok lo mau sih kawin sama Syahid? Sementara Ruben bertanya pada Syahid: Lo dijebak pakai strategi apa sama si Amel? Masing-masing gender memandang rencana pernikahan dengan keberpihakannya masing-masing meski tujuan akhirnya sama: mempertanyakan alasan mereka berdua menikah.

Saat kawan saya Aco menanyakan mengenai kemungkinan pertimbangan status ekonomi sebagai salah satu klasifikasi memilih calon pasangan, saya pun dengan tegas menjawab: YA. Saya tidak peduli dengan cap materialistis yang akan dilekatkan pada saya, tapi saya pikir bohong besar kalau cinta adalah segalanya. Pengalaman masa lalu membuat saya menyadari bahwa cinta saja tidak akan pernah cukup. Karena cinta tidak akan bisa menyediakan makanan di meja. Karena cinta tidak akan memberi saya tunjangan kesehatan yang saya perlukan. Karena cinta tidak akan menghilangkan tekanan batin. Lalu Aco pun merespon: itu realistis namanya. Oh ya?

Minggu lalu saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan sahabat-sahabat perempuan saya. Saya teringat kata-kata Nandy pada saya, “ah itu kan kepala lo yang bicara. Hati lo nggak mungkin menerima kondisi itu kan? Ah, gua lupa, lo kan nggak punya hati.” Hmm…

Jadi mana yang benar: realistis atau tidak punya hati? Saya mencoba untuk tidak terlalu memusingkan pendapat kedua teman saya itu. Meski demikian, tetap saja saya tergelitik.

Saya jadi teringat kedua orang tua saya yang tampaknya sudah mulai resah melihat saya yang masih asyik dengan diri sendiri dan belum ada tanda-tanda akan menikah segera. Yang menarik, keduanya menujukkan kegelisahannya dengan cara yang berbeda. Ayah saya pernah bertanya dan mencoba mendiskusikan topik ini dan tampak berusaha memahami pendapat saya. Sementara Ibu saya berusaha menunjukkan dukungannya pada saya, meski dalam beberapa hal tampak terlalu defensif, terutama di hadapan keluarga besar. Sikap defensifnya inilah yang membuat saya menyadari bahwa ia pun resah memikirkan saya.

Saya memang ingin menikah. Sesegera mungkin kalau bisa. Tapi di sisi lain, saya juga belum mau berkompromi. Tentang cinta, tentang keluarga, tentang apapun. Jadi, waktu akan terus berjalan dan saya akan ikut berjalan bersamanya. Soal menikah? Biar waktu juga yang menunjukkan jalan…

0 Comments:

Post a Comment

<< Home